Selasa, 29 Desember 2009

BOYS R TOYS PART 1


Malam semakin larut. Sang bulan beranjak dari tidurnya. Perlahan menampakkan kemilau cahayanya yang indah. Suara jangkrik-jangkrik saling bersahutan. Mengalunkan irama musik malam.
Seorang gadis manis berkulit sawo matang, berhidung mancung dan bertubuh tinggi semampai dengan rambut ikal sepinggang duduk manis di tepi kolam renang. Ia membuka laptop berwarna biru dongker 14 inci kesayangannya. Jemarinya yang lentik dengan lincahnya merangkai huruf-huruf di laptop itu menjadi sebuah tulisan.
Ia membuka salah satu situs jejaringan social, Facebook. Pada kotak search, ia mengetik sebuah huruf Boys Are toys. Keluarlah profil sebuah grup yang isi friendlistnya berjumlah seribu orang dan semuanya wanita. Di kotak itu tertulis Scorpygirl sebagai Moderator.
Ia membuka menu discussion board dan mulai membaca satu persatu tulisan-tulisan pertanyaan yang masuk di dalamnya. Di dalam discussion board itu terdapat lagi 11 pilihan-pilihan topic. Ia mengklik salah satu topic yang berjudul cara membalas dendam pada cowok playboy. Di dalam topik itu ada berpuluh-puluh tulisan dari anggota. Ada yang berkonsultasi tentang masalah mereka dan ada juga yang menjawab pertanyaan. Ada juga dari para anggota yang membagi pengalaman dan tips dan trik mereka tentang cara membalas dendam pada cowok playboy.
Gadis manis itu mulai mengetik sesuatu pada kolom terakhir,
Cara paling ampuh untuk membuat cowok-cowok playboy jera adalah dengan mengekang dan membatasi pergaulan mereka. Selalu awasi gerak-gerik mereka saat berbicara dengan teman-teman cewek mereka. Periksa terus isi inbox mereka. Pegang semua password Facebook,email, Friendster atau apapun situs yang mereka punya di dunia maya. Dekati cewek-cewek yang terlalu dekat dengan cowok kita dan pertegas pada cewek-cewek itu kalau mereka hanya sekedar teman. Sesekali kita harus bertukar HP kita dengan sang pacar untuk mengecek situasi. Dan jangan segan-segan untuk mengintrospeksi cewek-cewek yang mengirim sms mesra atau telepon mesra pada sang pacar. Kalau mereka masih membandel, larang atau gertak mereka untuk tidak mengirim sms lagi dan pertegas stastus kita sebagai pacar.
Dengan membatasi gerak pacar, kita jadi tahu kelakuannya dan dapat dengan mudah mengontrolnya. Pacarpun akan sulit untuk main mata dengan cewek lain. Oke girls,selamat mencoba.
Gadis manis itu tersenyum puas. Ia mengklik topik lain. Cara membalas dendam pada cowok yang menyelingkuhi kita.


Pertama saat tahu kita diselingkuhi pasti sakit sekali hati ini dan ingin segera memutuskan pacar kita. Tapi, tahan dulu girls! Cowok-cowok itu harus merasakan apa yang kita rasakan. Jangan putusin mereka. Biarkan mereka tetap jadi pacar kita.
Kita harus bisa berpura-pura bahwa kita benar-benar menyanyanginya. Padahal di dalam hati kita harus berusaha melupakan cowok kita dan mulai membuka hati pada cowok lain.
Kita harus bisa merebut kembali cinta dan sayang cowok kita dengan cara mengikuti apa yang ia mau dan selalu berada di dekatnya saat dia susah. Tetapi disisi lain, kita mulai mencari pengganti dirinya yang lebih baik. Saat sang pacar mulai ‘klepek-klepek’ alias cinta mati dengan kita, segera tinggalkan mereka dan jadian dengan cowok incaran kita.
Pasti cowok-cowok itu akan merasakan sakit hati yang luarbiasa seperti yang kita rasakan. Memang, seharusnya cowok juga merasakan sakit hati kita. Jangan diam saja dan pasrah saat dihianati oleh sang pacar! Balas perselingkuhan mereka!!

Tiba-tiba dari dalam rumah terdengar suara pintu ditutup. Dentumannya terdengar dengan jelas sampai ke tepi kolam yang berjarak tiga puluh meter dari pintu. Seorang pria paruh baya masuk ke dalam rumah dengan kemeja putih yang terlihat acak-acakan.
Tubuhnya berjalan dengan sempoyongan mencari tempat pijakan. Rambutnya yang setengah putih setengah hitam dan botak di depan terlihat berantakan seperti habis bangun tidur. Matanya memerah dan pandangan matanya kabur. Bibirnya bergerak-gerak memanggil sebuah nama sambil sesekali berputar-putar mencari nama tersebut.
“Evy. Evy. Dimana kamu?” tanya laki-laki itu sambil berjalan sempoyongan ke seluruh penjuru rumah.
“Setan!! Cepetan ke sini!”
Seorang wanita berkulit putih berambut panjang sedada dan berumur 45 tahun datang ke arah laki-laki itu dengan tergesa-gesa. Wajahnya tampak kebingungan melihat keadaan lelaki tersebut.
“Ya ampun mas. Mabok- mabokan lagi. Pasti mas habis pergi dengan perempuan pelacur itu,” ujar wanita tersebut sambil merapikan pakaian dan rambut laki-laki itu.
“Diam kamu! Tak usah menyebut-nyebut perempuan itu! Apa hakmu melarang aku pergi dengan wanita-wanita lain,” bentak laki-laki itu.
“Kamu pasti habis hura-hura bersamanya. Bisa-bisanya mas bersenang-senang dengan wanita lain sementara tagihan kartu kreditku belum di bayar!” sahut wanita itu tak mau kalah. Wanita itu mengguncang-guncang laki-laki paruh baya di depannya.
“Bayar apa lagi sih? Kerjaanmu hanya minta uang uang uang dan uang. Dasar wanita parasit! Tidak berguna! Kerjaanmu hanya belanja, jalan-jalan, arisan dan menghabis-habiskan uangku saja!” sahut laki-laki itu. Suaranya mulai meninggi dan bertambah keras.
“Apa? Kau bilang aku wanita tak berguna! Aku ini istrimu! Aku stress ngurusin anakmu yang selalu bikin ulah itu! Belum lagi aku bosan di rumah terus tanpa kerjaan! Wajarlah jika aku meminta uang untuk refresing,” sahut wanita itu tak kalah keras.
“Diam kau wanita parasit!”
Plak..plak..
Dua buah tamparan melayang dengan mulusnya di pipi kanan dan kiri wanita itu.
“Kenapa selalu aku yang jadi korban emosimu!” ujar wanita itu sambil menangis tersedu-sedu. “Tampar saja lagi kalau kau berani. Kau memang lebih menyanyangi wanita pelacur itu!”
Laki-laki itu bertambah emosi. Ia menarik rambut wanita itu dengan kasarnya. Kemudian melempar wanita itu ke arah meja makan.
Aaawww!!!! jerit wanita itu kesakitan.
Wanita itu jatuh terjelembab setelah sebelumnya menabrak kursi di depan meja makan. Tangannya yang kurus menyenggol gelas dan piring yang tertata rapi di atas meja. Tak pelak, ke dua benda itu terjatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.di samping sang wanita.
“Rasakan wanita parasit!” umpat lelaki itu.
“Puas kau melukaiku lagi! Pergi saja kau dari sini! Pergi saja sana kau dengan wanita pelacur itu! Biar semua masyarakat tau kalau seorang anggota DPR telah berselingkuh dengan seorang pelacur!” ucap sang wanita sambil menangis.
Sang lelaki naik pitam. Ia berjalan dengan sempoyongan menuju wanita itu. di pukulnya tubuh wanita itu bertubi-tubi.
“Hei! Berhenti kau menghajar bundaku!” hardik gadis manis yang sedari tadi duduk di pingir kolam renang menyaksikan pertengkaran ke dua orangtuanya. Hatinya gerah melihat pertengkaran kedua orangtuanya.
Gadis tersebut segera memisahkan kedua orangtua itu dibantu oleh satpam rumah mereka. Ia segera membopong wanita cantik itu ke dalam kamar.
“Githa, terimakasih sudah menolong bunda. Kalau gak ada kamu, bunda sudah mati mungkin dibunuh ayahmu yang kesetanan,” ujar wanita itu sambil menangis.
“Iya Nda. Lagian, Githakan udah bilang berkali-kali. Kalau dia pulang sambil mabok, bunda gak usah ladenin omongannya! Kalau perlu bunda kunci pintu rapat-rapat. Biar orang sinting itu gak bisa menyiksa bunda,” ujar gadis manis itu sambil mengusap darah segar yang mengalir di hidung dan bibir sang bunda.
“Hus, kamu gak boleh bilang begitu! Dia itukan ayahmu. Kamu tetap harus menghormatinya,” jawab wanita cantik itu sambil mengusap airmatanya.
“Cuih! orang kasar dan berengsek seperti itu tak pantas aku sebut sebagai ayah!” jawabnya.
Setelah sepuluh menit sibuk mengobati sang bunda, terdengar suara sms masuk. Sang gadis membaca sebentar isi smsnya lalu meminta izin kepada sang bunda.
“Nda, aku mau pergi sama Alex,” ujar gadis manis tersebut sambil beranjak keluar.
“Mau kemana kamu malam-malam begini keluyuran?”
“Mau nongkrong di Kemang nda. Biasa, melepas stress.”
“Jangan lama-lama perginya. Maksimal jam dua sudah harus pulang.”
“Iya nda,” jawab gadis itu sambil merapikan make upnya dan mengambil jaket jeans berwarna biru.
Saat melewati ruang tamu, ia melihat lelaki paruh baya itu sedang tertidur pulas di sofa. Hatinya terasa nyeri seketika. Ia teringat dengan segala perlakuan kasar dan kata-kata kotor yang sering keluar darinya. Tingkah lakunya yang semena-mena dan kejam membuat ia tak pantas disebut Ayah.
“Pak Bejo, taruh air putih di meja! Biar pas dia bangun, ia bisa langsung meminumnya,” perintah gadis manis itu kepada satpam di rumahnya.
“Iya non.”
“Githa, kamu mau kemana?” tanya laki-laki paruh baya itu.
“Bukan urusan lu! Urusin aja diri lu, baru urusan orang lain!” jawabnya dengan sinis.
Gadis manis itu segera melangkah keluar rumah. Ia segera menaiki motor ninja hijau yang dikendarai oleh seorang cowok tampan berwajah sedikit kebule-bulean.
* * * *
Gadis manis berkulit sawo matang itu adalah aku, Dewi Githa Maharani. Aku berusia 22 tahun. Banyak orang berkata, aku orang yang sangat beruntung. Terlahir dari keluarga kaya raya dan terhormat. Ayahku seorang anggota DPR yang sangat dikenal dan disegani banyak orang. Sedangkan bundaku adalah mantan gadis sampul sebuah majalah dan mantan pemain sinetron yang berwajah campuran Jawa dan Belanda yang berbodi seksi.
Aku sendiri memiliki tubuh tinggi menjulang, dengan buah dada yang besar, hidung mancung dan kulit sawo matang yang sangat eksotis. Wajahku yang manis ini membuat mata setiap lelaki menoleh kepadaku setiap kali aku lewat di depannya.
Otakku juga cemerlang. Sedari SD sampai SMA aku selalu menjadi rangking satu di kelas dan memperoleh beasiswa. Tak hanya itu, kemampuan bahasa Inggrisku amat baik. Puluhan lomba bahasa Inggris mulai dari story telling, speech, scrabel sampai debate ku menangkan.
Coba kau pikir, kurang bahagia apa lagi hidupku? Di kelilingi harta yang melimpah, memiliki wajah yang cantik jelita dan otak yang cerdas. Namun, kebahagian memang tak melulu diukur dengan harta dan rupa. Walaupun aku memiliki semua hal yang orang impikan, namun aku tak bahagia!
Kau tau mengapa? Ya, semua itu karena laki-laki brengsek itu! Laki-laki yang membuat aku benci setengah mati dengan semua pria! Laki-laki yang membuatku tidak percaya dengan adanya cinta sejati! Laki-laki itu adalah ayahku!
Karena dia, aku menganggap Boys are Toys!

* * * *




Tidak ada komentar: