Kamis, 09 Februari 2012

Papua, Pulau Eksotik yang Terlupakan

Papua, sebuah pulau di ujung Indoenesia yang masih identik dengan ketertinggalan atau ketradisionalannya . Tanggal 28 November kemarin gw sempat mengunjungi pulau ini selama tiga hari untuk perluan kerjaan.  Gw terbang menuju kota Sorong, sebuah kota kecil di bagian utara pulau Papua. Sebelum pergi, sempat terlintas rasa takut dalam benak gue.

Gimana kalau gue nanti kena malaria? Gimana kalau gue nanti kena panah penduduk yang masih primitif? Atau gimana kalau nanti gue kena peluru nyasar dari masyarakat Timika yang lagi berantem?

Semua ketakutan dan persepsi negatif musnah ketika mendarat di Bandara Domine Eduard Osok, Sorong. Ternyata penduduk disana tidak seprimitif yang gue kira. Kota Sorong sudah modern dengan jalan raya yang luas dan bagus. Rumah masyarakatnya juga susah modern. Banyak  pertokoan serta ruko-ruko dan tempat perbelanjaan disana menunjukkan bahwa masyarakatnya berpenghasilan cukup memadai.  Bahkan gue sempat melihat nama-nama terkenal macem seperti KFC dan Happy Pupy di sana. Angkutan umum disana bentuknya seperti angkot yang ada di Jakarta dan biasa disebut TAXI. Tapi tidak ada taxi atau kopaja atau Bajaj maupun becak disana. Mereka beroperasi sampai tengah malam.

Gue bersama ABG Papua


Penduduk disana mayoritas beragama khatolik atau Kristen dan 50 %nya adalah pendatang, namun mereka semua berkulit gelap, bahkan salah seorang teman saya yang keturunan Tionghoa saja berkulit lebih gelap dari saya. Mungkin cuaca di Sorong yang panas dan cukup menyengat membuat mereka berkulit gelap. Penduduk disana banyak yang memiliki parabola sehingga pengetahuan mereka tidak kalah tertinggal. Bahasa sehari-hari mereka adalah bahasa Indonesia. Ini terjadi karena Sorong banyak dihuni oleh pendatang yang berasal dari berbagai macam suku di Indonesia.

Tempat wisata terkenal disini adalah raja ampat. Raja ampat adalah gugusan kepulauan kecil yang berjarak sekitar 2-4 jam dari  pelabuhan Sorong. Perjalanan kesana biasa ditempuh dengan Fery dengan biaya 80 ribu sekali jalan. Gue tidak sempat pergi kesana karena tidak cukup waktu dan cuaca yang sedang tidak bersahabat. Akhirnya gue memutuskan untuk berjalan-jalan dipantai sekitar pelabuhan saja.  

Pantai di sekitar pelabuhan biasa disebut tembok Berlin. Kenapa bisa disebut tembok Berlin? Karena disepanjang pantai pelabuhan, terdapat tembok panjang berukuran satu meter yang berfungsi sebagai pembatas dengan jalan raya. Pantai di Papua sangat indah. Pasirnya putih bersih, langitnya berwarna biru cerah dan air lautnya berwarna hijau turqois dengan ombak yang tidak besar. Jika cuaca sedang cerah, akan terlihat beberapa gugusan kepulauan di sekitar Sorong seperti pulau Buaya.

Selain pantai tembok Berlin, gue sempat mengunjungi tempat wisata lain yaitu perumahan nelayan di pinggir pantai. Para nelayan itu tinggal disebuah rumah panggung yang ada di pinggir pantai. Perahu-perhau mereka diikatkan di kayu-kayu rumah mereka. Gue juga sempat mampir ke hotel Cartenz hotel unik yang berbentuk seperti kapal pesiar mewah yang terletak di pinggir pantai. Semua kamar di dalam hotel akan menghadap dipantai dan terdapat sebuah restoran indah di tengah-tengah lautan. Ketika Matahari terbenam, kalian bisa melihat sunset dari dalam kamar. Benar-benar tempat yang romantis dan cocok buat yang mau berbulan madu.

Hotel Cartenz




Pemandangan dari atas Kapal eh Hotel Cartenz
Buah Matoa

Sebelum meninggalkan Papua, gue sempat membeli oleh-oleh. Matoa, buah khas Papua bisa menjadi pilihan oleh-oleh yang pas karena rasa buahnya yang enak dan juga murah. Buah ini berbentuk seperti kelengkeng tapi rasanya seperti buah Duku dicampur buah Rambutan. Lembut dan Manis. 

Oleh-oleh Oke
Gantungan kunci berbentuk koteka atau gendang tifa juga gue recomenkan menjadi oleh-oleh yang keren. Harganya sekitar 8 rb- 15 rb. Tas dan tempat HP dari akar pohon  juga bagus menjadi oleh-oleh. Buat yang mencari oleh-oleh unik dan ga biasa, kalian bisa membeli pajangan koteka. Bentuknya memang seperti koteka asli, namun koteka ini bukan untuk dipakai, namun untuk di gantung di dinding. Harganya sekitar 25 rb- 50 rb.
Koteka Pajangan


Pengalaman mengunjungi pulau cendrawasih ini benar-benar membuka mata dan wawasan gue bahwa ternyata Papua tidak seprimitif yang semua orang kira. Banyak mutiara terpendam yang tidak terlihat dan terlupakan selama bertahun-tahun. Papua, pulau eksotik Indonesia yang terlupakan.


Tidak ada komentar: