Jumat, 11 Oktober 2013

Belajar Sampai Akhir Usia



Pria itu duduk persis dibelakangku. Kursinya berada di sebelah kiri, nomer tiga dari garis depan. Rambutnya putih semua, kerutan tampak memenuhi wajahnya dan kacamata tebal menutupi mata indahnya. Namun, dibalik tubuhnya yang renta,  terdapat semangat belajar yang luar biasa. Baginya, belajar  harus dilakukan sepanjang usia. Itulah prinsip yang dijalankan oleh pria bernama Thomas Somaria.



Opa Thomas, begitu aku menyebutnya. Aku bertemu dengannya di workshop Jurnalistik yang diadakan oleh gerejaku, MBK. Ditengah kerapuhan tubuhnya dimakan usia, ia masih terus semangat dan mengasah skill yang ia punya. Ia adalah peserta lansia satu-satu sekaligus peserta tertua di workshop ini. Sebuah bukti ketekunan yang patut kita contoh dan benar-benar menjadi inspirasiku untuk terus belajar hingga akhir usia.
Menulis bukanlah hal yang baru bagi Opa Thomas. 

Pria yang lahir di Jakarta 19 September 1942 ini sudah belajar menulis sejak kelas 4 SD. Awalnya hasil tulisannya ia kirim ke majalah sekolah atau untuk ditempel di mading sekolah. Berjalannya waktu, ia mencoba untuk mengirimkannya ke media-media lokal. Berkat ketekunannya, karya-karyanya  berhasil dimuat di beberapa media besar seperti Sinar Harapan, dan Mingguan Jaya.



Opa lagi sibuk membaca hasil tulisannya
Salah satu hasil karya Opa yang pernah diterbitkan di Mingguan Jaya tahun 60an adalah terjemahan sajak-sajak Ho Ci Mien. Hebatnya lagi, terjemahan sajak itu diterbitkan ketika Opa Thomas baru lulus dari SMA.

                “Kamu harus rajin membaca untuk bisa menulis. Gaya tulisan harus disesuaikan dengan medianya,” nasehat opa ketika aku bertanya apa rahasianya bisa terus berkarya sampai sekarang.
Ya, dalam menulis, opa tidak menspesialkan diri ke dalam satu genre tertentu. Topik apapun akan ia tulis dan tentunya disesuaikan dengan jenis medianya.

                “Awalnya saya menulis karena hobi. Lalu hobi itu bisa menghasilkan uang jadi saya lakukan untuk sampingan. Kalau sekarang motivasi saya menulis itu untuk terus berkarya,” cerita Opa padaku di tengah sesi workshop.

Opa Serius mmperhatikan materi workshop
                Kini Opa Thomas rajin mengirimkan tulisannya ke majalah Rohani dan majalah internal gereja. Opa Thomas pernah menjadi kontributor di majalah Penabur dan kini aktif menjadi kontributor Warta Minggu di paroki MBK. Ide tulisan beliau sangat ringan dan sederhana, biasanya seputar kegiatan paroki seperti bakti sosial, dan acara wilayah.

                Opa sempat mengemukakan pendapatnya dan harapannya untuk anak muda jaman sekarang. menurutnya anak muda dapat melahirkan sebuah reformasi di gereja Katolik melalui tulisan-tulisannya di media masa. Dengan adanya tulisan itu, persaudaraan umat katolik dapat semakin erat sehingga dapat menciptakan umat yang makin beriman, makin bersaudara dan makin berbela rasa.

Semangat belajar Opa Thomas sudah seharusnya menjadi cambuk bagi generasi muda untuk terus belajar. Belajar tidaklah mengenas batas usia. Selama kita masih mampu berfikir dan berkarya, pergunakanlah sisa waktu kita untuk terus berkarya dan menginspirasi orang lain.

Berfoto bersama Narasumber, Ibu Ita Sembiring

1 komentar:

Riko Bayu Wiranata mengatakan...

Senag bisa menambah wawasan mlalui tulisan tersebut , salam kenal dari rico samarinda ..
follow me ,https://twitter.com/rikobayuwirata